Mapala Proklamator sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa tertua yang ada dilingkungan Univ. Bung Hatta kembali membuat terobosan. Setelah sebelumnya menjadi unit mahasiswa pertama yang memiliki website resmi organisasi yang beralamat di http://maprok.org mulai sekarang, Mapala Proklamator membuat terobosan dalam pembangunan sistem database organisasi berbasis web.
Menurut Anton Mulyadi, ketua Mapala Proklamator, sistem yang dikembangkan Djamboe WebDesign tersebut mmemiliki seluruh fitur-fitur yang diperlukan sebuah organisasi, seperti database anggota, sistem agenda surat masuk dan keluar organisasi, laporan keuangan organisasi dan fitur-fitur lain layaknya sebuahnya organisasi standar.
[ Selengkapnya... ]
Kategori Informasi Kampus Al-Arba'a, 19 Rajab 1429 H - 08:34:54
oleh antara-sumbar.com
Padang, (ANTARA) - Alat tangkap kurang ramah lingkungan yang banyak digunakan nelayan di Danau Singkarak, Kabupaten Solok dan Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) menjadi salah satu penyebab terancamnya kelestarian ikan bilih (Mystacoleusus padangensis Blkr) di habitat tersebut.
Padahal ikan bilih merupakan satu dari 87 spesies ikan langka endemik di Indonesia yang terancam punah, kata pakar perikanan dari Universitas Bung Hatta (UBH), Prof Dr Ir Hafrijal Syandri, MS di Padang, Selasa.
Syandri merupakan guru besar ilmu pengelolaan perikanan perairan umum dan teknologi reproduksi ikan pada Fakultas Perikanan dan Kelautan UBH dan telah melakukan penelitian perkembangan ikan Bilih Danau Singkarak yang terancam punah sejak beberapa tahun lalu.
Menurut dia, alat tangkap kurang ramah lingkungan di Danau Singkarak itu adalah penggunaan jaring dengan mata jaring berukuran sangat kecil (satu inci ke bawah, red) dan alat tangkap bersifat destruktif yakni memakai aliran listrik dan tuba (racun).
Bahkan pada beberapa lokasi di Danau Singkarak terjadi penangkapan ikan bilih menggunakan bahan peledak (bom ikan, red) yang masih dilakukan sebagian masyarakat nelayan setempat, tambahnya.
Dari penelitiannya di Danau Singkarak, Syandri mengungkapkan alat tangkap ikan bilih yang dominan dipakai nelayan setempat adalah jaring insang dengan mata jaring 3/4 inci, dengan jumlah mencapai 544 unit
[ Selengkapnya... ]
Kategori Informasi Kampus Al-Arba'a, 12 Rajab 1429 H - 08:46:39
oleh sumber: antara-sumbar.com
Dampak pemanasan global akibat naiknya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi telah mulai melanda Indonesia sejak 1990-an, ditandai perubahan iklim yang bergeser dari siklusnya.
Dulu musim kemarau berlangsung pada Maret hingga September sedangkan musim penghujan pada Oktober hingga Februari tiap tahunnya, tapi kini siklus tersebut tidak lagi seperti itu, kata Pakar Lingkungan dari Universitas Bung Hatta (UBH), Prof Dr Ir H Nasfryzal Carlo M.Sc di Padang, Selasa.
Carlo merupakan guru besar bidang ilmu rekayasa lingkungan dan pengolahan limbah pada Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta (UBH).
Ia menjelaskan, pemanasan global terjadi karena meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer bumi dan dampaknya mulai terjadi di banyak kawasan di dunia termasuk Indonesia.
Menurut dia, berdasarkan riset jangka panjang dilakukan sejumlah ahli menyimpulkan, di Indonesia sejak tahun 1990-an, musim kemarau mengalami percepatan 40 hari dan musim hujan bisa mundur sampai empat dasarian.
Akibat perubahan itu, menyebabkan musim kemarau menjadi lebih lama 80 hari, sebaliknya musim hujan berkurang 80 hari dari kondisi normal, katanya.
[ Selengkapnya... ]
Universitas Bung Hatta Padang mengukuhkan dua orang Guru Besar sekaligus, pengukuhan tersebut adalah yang pertama kali dilakukan Universitas sejak berdirinya tahun 1981, 27 tahun lalu.
“Kita bersyukur, karena dalam usia 27 tahun, Universitas Bung Hatta memiliki dua orang guru besar tetap, dan Prof. Dr. Nasfryzal Carlo merupakan Guru besar tetap kedua yang berasal dari alumni Universitas Bung Hatta,” kata Yunazar Manjang Rektor Universitas Bung Hatta saat memberikan sambutan pada Rapat Senat terbuka Pengukuhan Guru Besar Tetap Universitas Bung Hatta, Sabtu, (12/07).
Yunazar Manjang mengatakan, pengukuhan Guru Besar merupakan sebuah jabatan prestisius dan jabatan bergengsi. Untuk meraih jabatan itutidak mudah dan memerlukan pengorbanan yang cukup bersar. Selain waktu, biaya dan tenaga dikorbankan, orang tua, isteri dan anak harus ditinggalkan untuk belajar.
“Tentu mereka yang tergolong cerdas, bersemangat, tekun, tabah dan teguh pendirian yang bisa meraihnya. Yang berhasil mendapatkan pengakuan dari sesame ilmuwan dan dari negara akan kompetensi yang dipunyainya. Guru besar suatu pengakuan bahwa seseorang telah memilki kompetensi dalam mencari kebenaran dan mempertahankan kebenaran ilmiahnya,” kata Yunazar Manjang.
Sementara itu, Ketua Yayasan Universitas Bung Hatta Padang Prof.Dr.Ir.H Fachri Ahmad, MSc mengatakan kedepan Universitas Bung Hatta Padang, akan terus melahirkan guru besar di universitas tersebut. “Itu akan terus mengalir, karena itulah tugas yayasan dan institusi memang harus mendukung kegiatan akademik itu tumbuh dan berkembang,” katanya.
[ Selengkapnya... ]